Blog

Pembelajaran Kooperatif Examples Non Examples

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF EXAMPLES NON EXAMPLES UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENCERITAKAN GAMBAR SISWA

Pengembanganbahasamelibatkanaspek sensorimotor terkaitdengankegiatanmendengar, kecakapanmemaknaidanproduksisuara.Kondisiinisudahdibawaanaksejaklahir.Cowlley (1997) mengistilahkansebagai” brain wired for the task.”SementaraSkinermempercayaibahwakapasitasberbahasatelahdibawaanaksejakiadilahirkan, selanjutnyalingkunganlah yang turutmemperkayabahasaanak.Disinilahperanseorang guru dalammenyiapkandiridanlingkungan agar perolehanbahasaanakdapatberkembangdengan optimal.

Kemampuanberahasa di Taman Kanak-Kanak pengembangannyadiarahkan agar pesertadidikmampumenggunakandanmengekspresikanpemikirandenganmenggunakan kata- kata yang meliputimengolah kata dengankomprehensif, mengekspresikan kata- kata tersebutdalambahasatubuh yang dapatdipahamioleh orang lain, mengertisetiap kata, mengartikandanmenyampaikansecarautuhkepada orang lain danberargumentasi, meyakinkan orang lain melalui kata-katanyasendiri. Mengembangkankemampuan berbahasa di TK pada dasarnya merupakan salahsatu upayadalammengembangkan kemampuan berkomunikasi, yaitu kemampuan menyampaikan dan menerima pesan dalam arti yang luas.

Pengembangan kemampuan berkomunikasi secara lisan meliputi latihan pengucapan, latihan mendengarkan, latihan pemahaman bahasa lisan dan bahasa tubuh, latihan penyusunan kata, latihan intonasi, dan masih banyak lagi. Agar anak memiliki kemampuan dasar berkomunikasi yang baik, maka dibutuhkan pembelajaran sejak dini dengan melakukan latihan-latihan misalnya dengan cara bercerita karena  kemampuan bercerita  secara lisan merupakan bagian dari keterampilan berbicara yang dipandang penting dalam berkomunikasi. Bercerita paling sering dilakukan dalam berkomunikasi dengan masyarakat, baik untuk orang dewasa maupun anak-anak. Menyadari pentingnya kemampuan bercerita, Ur (1996: 6-7) menyatakan bahwa bercerita merupakan keterampilan berbahasa yang penting yang harus siswa peroleh. Hal itu terkait agar siswa bisa berkomunikasi secara efektif melalui bahasa lisan, karena kesulitan  untuk oral komunikasi akan mengakibatkan siswa tidak bisa mengungkapkan ide-ide yang mereka miliki bahkan dalam bentuk percakapan sederhana.

Upaya untuk mencapai hasil optimal dalam lingkup perkembangan mengungkapkan bahasa khususnya untuk tingkat pencapaian perkembangan menceritakan gambar yang  disediakan, penulis telah melakukan berbagai aktifitas yang mendukung seperti memberikan stimulus dan  kesempatan bercerita secara individual dengan menggunakan  media pembelajaran yang sesuai misalnya menggunakan kartu bergambar atau gambar-gambar yang menarik, tetapi  hasil pencapaian perkembangannya belum sesuai dengan hararapan. Dari observasi ditemukan beberapa fakta bahwa  sebagian besar Ananda kurang aktif dalam proses pembelajaran, tidak percaya diri karena minimnya ide untuk menggunakan kosa kata yang memadai dalam bercerita sehingga kesulitan untuk mengolah kata dan mengekspresikan  melakui bahasa tubuhnya termasuk secara lisan. Fakta ini terjadi karena pembelajaran yang selama ini dilakukan  kurang memberikan ruang kebebasan bagi anak untuk dapat mengeksplor  keterampilan berceritanya dan penggunaan media  masih kurang inovatif dan menarik sehingga peserta didik merasa bosan.

Berdasarkanfakta-fakta di atas, makapenulisperlumengimplementasikan Model pembelajaran kooperatif Examples Non Examples,Model pembelajaran inimemilikipotensilebihuntukmewujudkanharapan agar siswadapatberpikirlogisdansistematissejakdinimelaluipengamatanterhadapgambar-gambarsehingga tepatdigunakanuntukmendukungaktifitasmenceritakan gambar yang berorientasipadapolapembelajarankolaborasisebagaiperwujudandaricooperative learning sebagaisaranapendukungpembelajaran yang berpusatpadasiswadengan memberi kesempatanuntukmenentukanpilihan, mengemukakanpendapat, danaktifmelakukanaktifitasataumelakukanataumengalamisendirisedangkan guru bertindaksebagaifasilitator.

Model pembelajaran inipunsangatsesuaidenganprinsip-prisippembelajaran di TK utamanyauntukmewujudkanpembelajaran yang berpusatpadasiswa (student oriented), pembelajaran yang demokratiskarenametodeinimemberikankesempatankepadasiswauntukberinteraksisecara optimal baikdengan guru maupundenganteman, selainitu Model  pembelajarankooperatif Examples non Examplesmemberikankesempatananakuntukmerasakanpembelajaran yang penuhmaknadalamarti proses pembelajaran yang efektifdandapatmembawapengaruhperubahanterhadaptingkahlaku yang meliputiaspekafektif, psikomotorikdankognitif. Dengan memberikan kesempatan siswa untuk beraktifitas dan bersosialisai dengan lingkungannya, memberikan pengalaman, pengetahuan dan keterampilan dan dapat menumbuhkan  beberapa aspek yang positif lainnya seperti  kemandirian, sosial emosional maupun pengembangan karakter siswa seperti kerjasama, saling menghargai, berbagi dan rasa percaya diri.

Penerapan model pembelajarankooperatifExamples non Examplesturutmemberikanpengaruhpositifpadadiriseorangsiswamisalnyalebihdapatmemahamidanmenghargai  orang lain, mencapai hl tersebut  perlu dilatih dengan memahamibahwamerekamembutuhkanpendapat orang lain yang belumtentuterfikirkanolehdirinyasendiridanbahwahidupituharussalingmembantudanberbagi.

Meskipun  model pembelajaranKooperatif Examples non Examplesbiasadigunakan di kelastinggi, namun ternyata sangat efektifjugaditerapkan di Taman Kanak-Kanak denganmenenkankanaspekpsikoligisdantingkatperkembangannya seperti; kemampuanberbahasalisan, kemampuananalisisringan, dankemampuanberinteraksidengansiswalainnya.

Aspek-aspek yang diamati dan dinilai selama menceritakan gambar  menggunakan model pembelajaran Kooperatif Examples non Eksemplesyang diterapkan dalam penelitian ini meliputi penggunaan kosa kata, kelancaran, pelafalan, kesesuaian cerita dengan gambar, Keruntutan cerita,komunikasi non verbal dan penampilan dalam bercerita,selain itu respon siswa termasuk antusiasme siswa dalam mengikuti pelajaran, suasana kelas, ekspresi wajah siswa saat bercerita dan  motivasi belajar siswa juga diukur melalui  semangat siswa dalam mengikuti kegiatan, keaktifan dilihat dari partisipasi atau banyaknya siswa yang mampu dan mau memberikan pertanyaaan, jawaban atau pendapat saat kegiatan  berlangsung dan kerja sama dengan teman saat berdiskusi bersama kelompoknya.

Penelitian tindakan kelas ini  dilaksanakan selama 2 siklus. Padasiklus I langkah-langkahpembelajarannyameliputihal-halsebagaiberikut:  (1) melakukankegiatan yang membangkitkansemangatmisalnyabertepuk, menyanyidll,  (2) menyampaikantujuanpembelajaran, (3) menjelaskantentangtehnikpembelajaran model Coopertaif Examples non Examplesdan media yang digunakan,(4) member contohcarabercerita yang baikdenganmenggunakan media gambar yang ditampilkan di layar LCD, selanjutnya guru member kesempatankepadasiswauntukmengajukanpertanyaantentangcerita yang telahdisampaikan, (5) Siswamengamatigambar (berbeda dengan gambar yang dicontohkan)  yang ditampilkanmelaluilayar LCD, (6) Siswamembentukkelompok @ 4-6 anak, (7) Siswamengamatidanmenganalisagambar yang ditampilkan, (8)Siswamelakukandiskusikelompokberkaitandengangambar yang ditampilkan, (9) Siswamenceritakangambar yang telahdianalisadantelahdidiskusikandengankelompoknya, (10) Siswamenjawabpertanyaantentangcerita yang telahdisampaikan, (11) Siswamemberikantanggapanterhadappenampilankelompoklain, (12) Membuat kesimpulan dengan penguatan pada aspek penanaman karakter siswadanmelakukanrefleksitentangkegiatan yang telahdilakukan.

Sedangkanpadasiklus II kegiatandirancangberdasarkananalisis dan refleksi  pada siklus I, kegiatanpadasiklus II ini hampir sama dengan siklus I tetapi untuk untuk peningkatan kualitas kegiatan belajar mengajar perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut misalnya penataan ulang pembagiankelompok dan tempat duduksehinggapesertadidiknyaman untuk berinteraksi, perlunya tambahan waktu untuk berdiskusi, media gambar harus full colour, untuk menarik perhatian dan meningkatkan motivasi  perlu alat pendukung berupa pengeras suara dan panggung mini,memberikan apresiasi yang lebih dengan memberikan hadiah bagi Ananda yang berani tampil dan pelaksanaankesepakatanperaturandalamkegiatansehinggakelasmenjadikondusifdanmenyenangkan.

HasilPenelitianmenunjukkanbahwa proses pembelajaran menceritakan gambardiakhirsiklus II semakinbaik dan terjadipeningkatan yang signifikandariseluruhelemen yang diamati. Hasilinidipastikankarenasiswamempunyaimotivasibelajar yang tinggidenganpenggunaan media yang inovatif dan dipacuolehhadiahmenarikbagi yang mengikutikegiatandenganbaik, siswajugasudahmemahamibetultehnikpelaksanaanmetodesertatujuanpembelajaran yang hendakdicapaisehinggakelasmenjadikondusifdanmenyenangkan.siswaterlihataktifberdiskusidanmamputampildengansangatbaik.Proses pelaksananankegiatanpembelajaransiklus II pertemuan I mencapaimencapai82,32%, padapertemuan II mencapai 86,74%, danpadapertemuan III mencapai 87,55%.Kalaudibandingkandenganhasilsebelumnyaataupertemuan III siklus I padapertemuan I siklus II terjadipeningkatan  yang tinggiyaitusebesar 13,65%. SedangkanjikapertemuanIdibandingkandenganpertemuan  II padasiklus II initerjadipeningkatan 14,42%,dan darikepertemuan III ataudiakhirsiklus yang telahmencapai87,55% iniberartiterjadipeningkatan proses sebanyak 0,81 %.

Dengan demikian penelitian ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang biasanya diterapkan di tingkat pendidikan yang tinggi ternyata dapat diterapkankan juga di Taman Kanak-Kanak tetapi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan diperlukan kreatifitas dalam memodifikasi antara metode, kebutuhan dan karakteristik anak.

GrafikPeningkatan Proses Belajar

Sedangkan untuk hasilbelajar, penulis memusatkan pada aspek-aspek yang berhubungan dengan  penggunaan elemen berbicara yang meliputi kelancaran, lafal, isi, keruntutan, komunikasi non-verbal, penampilan dan kosa kata. Hasilanalisispadaaspek kelancaran mengalamipeningkatan yang ditandaidenganpenggunaanwaktu jeda untuk berpikir dengan menggunakan kata “emm”,“apa ya …?”, “terus …” sudah jarangdiucapkan oleh pesertadidik dalam bercerita dan setiap kata sudah disampaikan dengan pelafalan yang benar. Pada aspek isi cerita sebagian siswa sudah dapat bercerita sesuai dengan  gambar dan dapat mengungkapkannya dengan runtut. Sedangkan dalam komunikasi non-verbal, Ananda sudah mampu  bercerita sambil menggunakan gerakan-gerakan dan ekpresi wajah yang baik dan tepat,  Dan  pada aspek penampilan bercerita, Ananda telah mampu membuat teman-temannya tertarik dengan apa yang diceritakan dengan penggunaan kosa kata yang lebih kaya dan pemilihan kata yang baik.

Grafik KonversiHasil Belajar

Dengan demikian penelitian ini membuktikan bahwa pengimplementasian model pembelajaran kooperatif Examples Non Examples dalam kegiatan menceritakan gambar berdampak positif terhadap proses dan hasil pembelajaran, selain itu penggunaan media pembelajaran yang berbasis IT di Taman Kanak-Kanak sangat menunjang keberhasilan dan mutu pembelajaran.

 

 Oleh: Ana Maslicha, S.Pd

(Juara I Lomba Inovatif Pembelajaran Kota Malang Tahun 2012)

No Comments Yet


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *