Blog

Bentuk Karakter Kebangsaan Sejak Dini

Usia dini merupakan masa keemasan, dimana perkembangan otak anak berkembang secara pesat. Oleh karena itu pada masa ini anak harus benar-benar distimulasi agar perkembangannya menjadi optimal, demi masa depannya. Stimulasi dapat diberikan  melalui pendidikan. Salah satu dari lembaga pendidikan yg dapat melakukan penanaman nilai moral kebangsaan adalah TK atau RA yang merupakan lembaga pendidikan anak usia dini (paud).  Kita sebagai guru berkewajiban menanamkan nilai-nilai rasa cinta tanah air dan bangsa. Nilai tesebut sangat perlu ditanamkan kepada anak sejak usia dini baik di TK atau RA agar sebagai generasi penerus bangsa, mereka memiliki sikap dan tingkah laku  yang  dapat menghargai bangsa dan negaranya. Cara menanamkan rasa cinta tanah air dapat dilakukan dengan sederhana melalui berbagai kegiatan dan metode yang bervariasi. Metode yang dapat digunakan diantaranya adalah metode demonstrasi/praktik langsung, bercerita, bermain peran , bernyanyi , karya wisata ke musium.

Untuk menanamkan sikap cinta tanah air pada anak TK dapat di lakukan melalui berbagai kegiatan, salah satu contohnya adalah upacara bendera setiap hari senin, upacara setiap hari  hari besar nasional serta memperingati hari kemerdekaan dengan mengadakan berbagai macam  lomba – lomba. Seperti halnya  di TK Islam Sabilillah Malang  setiap  anak  ketika baru datang dan melihat bendera harus segara melakukan hormat  bendera  merah   putih, ini di lakukan agar membentuk karakter anak mempunyai rasa bangga  dan cinta tanah air  dan bangsanya dan dengan menyanyikan lagu Indonesia raya dengan memegang dada sebelah kiri  membiasakan untuk menumbuhkan semangat nasionalisme pada anak usia dini, karena nilai semangat nasionalisme harus dilestarikan dan di wariskan kepada generasi penerus bangsa agar mampu mempertahankan kemerdekaan dan mengisinya.

Setiap upacara bendera pun anak usia dini sudah belajar mengucapkan pancasila yang merupakan dasar Negara bangsa Indonesia. Kegiatan upacara bendera dilaksanakan dalam rangka membentuk karakter pribadi yang tangguh, disiplin, cinta bangsa dan Negara ,bertanggung jawab dan tertib.T ertib saat mengikuti upacara bendera dan tertib saat di kelas. Pendidikan karakter sangat penting untuk dilakukan oleh guru guna membentuk pribadi siswa yang baik, guru merupakan tokoh utama disekolah dalam membentuk karakter tersebut.Keteladanan dan pembiasaan bisa menjadi jembatan yang ampuh untuk mewujudkan cita cita pendidikan karakter.Rasa cinta tanah air dapat juga ditanamkan kepada anak melalui tema tanah airku/ negaraku. Selain berkunjung ke museum untuk mengenalkan sejarah perjuangan pahlawan anak dapat juga di ajak mendengarkan cerita langsung dari bapak veteran/ tokoh pejuang atau pahlawan tentang perjuangan yang telah beliau lakukan untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Dengan mendengarkan cerita sejarah dari tokoh pejuang Indonesia anak dapat  menghargai jasa para pahlawan yang telah mengusir penjajah dari Negara Indonesia dan mempunyai rasa cinta yang tinggi terhadap Negara serta menjadikan perjuangan mereka sebagai motivasi untuk berjuang memberikan sesuatu yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Mendengarkan kisah perjuangan langsung dari pelaku sejarah kemerdekaan membuat pembelajaran  lebih bermakna bagi siswa.

Menanamkan nilai nilai kebangsaan atau cinta tanah air pada anak TK dapat juga dilakukan dengan mengenakan pakaian batik, karena batik sudah menjadi kebanggaan bangsa Indonesia , dapat juga dengan mengenalkan pakaian adat pada acara hari kartini atau hari kemerdekaan, tujuannya mengenalkan berbagai macam  suku yang ada di Indonesia.

Guru sebagai pendidik di sekolah sangat berperan penting dalam membentuk karakter. Melalui figur seorang guru yang mampu memberikan teladan dan dicintai muridnya maka itu menjadi jalan yang mudah untuk menanamkan dan menumbuhkan nilai nilai kebangsaan pada diri anak usia dini. Pendidik merupakan ujung tombak di lapangan dalam mewujudkan pribadi siswa yang mantap dan memiliki rasa nasionalisme tinggi. Rasa cinta tanah air adalah rasa kebanggaan, rasa memiliki, rasa menghargai, rasa menghormati dan loyalitas yang dimiliki oleh setiap individu pada negara tempat di mana dia tinggal. Yang tidak kalah menariknya adalah menanamkan rasa cinta tanah air melalui lagu, dengan menyanyi yang diiringi music misalnya, anak akan merasa senang dan gembira serta akan lebih mudah  hafal dan memahami pesan yang akan disampaikan. Menanamkan cinta tanah air dapat dilakukan juga melalui pengenalan berbagai permainan tradisional. Minimnya minat anak terhadap permainan tradisional semakin hari  semakin memprihatinkan. Kuatnya pengaruh perkembangan jaman yang di dukung oleh kemudahan tehnologi,mendorong makin terkikisnya permainan anak tradisional.

Ada lima aspek karakter manusia unggul yang ingin dicapai oleh Indonesia: 1) yang bermoral, berakhlak dan berprilaku baik, karena itu masyarakat kita harus menjadi masyarakat yang religious, 2) masyarakat yang cerdas, 3) manusia yang selalu inovatif dan terus mengejar kemajuan, 4) dapat mencari solusi dalam setiap kesulitan. Semua manusia Indonesia harus menjadi patriot sejati yang mencintai bangsa dan negaranya juga tanah airnya.

Mengacu pada hal di atas, agar nilai-nilai kebangsaan atau  nasionalisme yang telah di tanamkan disekolah dapat terinternalisasi kedalam diri siswa maka harus ada konsistensi dengan orang tua sehingga akan terjadi kesinambungan dalam menanamkan nilai nilai kebangsaan. Peran keluarga juga sangat penting dalam menanamkan nilai cinta tanah air , karena keluarga adalah pondasi utama dalam pengasuhan dan pendidikan pembentukan karakter anak melalui pembiasaan pembiasaan dan contoh serta melalui cerita sederhana.

Mengenang kembali jasa pahlawan atau pejuang kemerdekaan maka kita dapat intropeksi pada diri kita mengenai kontribusi yang telah kita berikan untuk mengisi kemerdekaan. Dengan menceritakan sejarah dan tokoh tokoh pahlawan / pejuang Indonesia agar anak dapat menghargai dan mempunyai rasa cinta yang tinggi terhadap Negara serta menjadikan pejuangan mereka sebagai motivasi untuk berjuang memberikan sesuatu yang terbaik bagi bangsa Indonesia.

Anak anak di masa TK adalah aset bangsa yang harus kita bimbing dan arahkan agar selalu cinta bangsa dan Negara. Mengajarkan anak untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, menyayangi sesama penganut agama, menyayangi sesama mahluk tuhan, tenggang rasa dan menghormati orang lain, mengamalkan sikap dan tingkah laku hemat, disiplin, dan bertanggung jawab serta menciptakan kedamaian bangsa juga merupakan perwujudan rasa cinta tanah air.

Oleh : Renny Yunis Aprilawati, S.Pd

Guru TK Islam Sabilillah Malang

Read more

Pembelajaran Kooperatif Examples Non Examples

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF EXAMPLES NON EXAMPLES UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENCERITAKAN GAMBAR SISWA

Pengembanganbahasamelibatkanaspek sensorimotor terkaitdengankegiatanmendengar, kecakapanmemaknaidanproduksisuara.Kondisiinisudahdibawaanaksejaklahir.Cowlley (1997) mengistilahkansebagai” brain wired for the task.”SementaraSkinermempercayaibahwakapasitasberbahasatelahdibawaanaksejakiadilahirkan, selanjutnyalingkunganlah yang turutmemperkayabahasaanak.Disinilahperanseorang guru dalammenyiapkandiridanlingkungan agar perolehanbahasaanakdapatberkembangdengan optimal.

Kemampuanberahasa di Taman Kanak-Kanak pengembangannyadiarahkan agar pesertadidikmampumenggunakandanmengekspresikanpemikirandenganmenggunakan kata- kata yang meliputimengolah kata dengankomprehensif, mengekspresikan kata- kata tersebutdalambahasatubuh yang dapatdipahamioleh orang lain, mengertisetiap kata, mengartikandanmenyampaikansecarautuhkepada orang lain danberargumentasi, meyakinkan orang lain melalui kata-katanyasendiri. Mengembangkankemampuan berbahasa di TK pada dasarnya merupakan salahsatu upayadalammengembangkan kemampuan berkomunikasi, yaitu kemampuan menyampaikan dan menerima pesan dalam arti yang luas.

Pengembangan kemampuan berkomunikasi secara lisan meliputi latihan pengucapan, latihan mendengarkan, latihan pemahaman bahasa lisan dan bahasa tubuh, latihan penyusunan kata, latihan intonasi, dan masih banyak lagi. Agar anak memiliki kemampuan dasar berkomunikasi yang baik, maka dibutuhkan pembelajaran sejak dini dengan melakukan latihan-latihan misalnya dengan cara bercerita karena  kemampuan bercerita  secara lisan merupakan bagian dari keterampilan berbicara yang dipandang penting dalam berkomunikasi. Bercerita paling sering dilakukan dalam berkomunikasi dengan masyarakat, baik untuk orang dewasa maupun anak-anak. Menyadari pentingnya kemampuan bercerita, Ur (1996: 6-7) menyatakan bahwa bercerita merupakan keterampilan berbahasa yang penting yang harus siswa peroleh. Hal itu terkait agar siswa bisa berkomunikasi secara efektif melalui bahasa lisan, karena kesulitan  untuk oral komunikasi akan mengakibatkan siswa tidak bisa mengungkapkan ide-ide yang mereka miliki bahkan dalam bentuk percakapan sederhana.

Upaya untuk mencapai hasil optimal dalam lingkup perkembangan mengungkapkan bahasa khususnya untuk tingkat pencapaian perkembangan menceritakan gambar yang  disediakan, penulis telah melakukan berbagai aktifitas yang mendukung seperti memberikan stimulus dan  kesempatan bercerita secara individual dengan menggunakan  media pembelajaran yang sesuai misalnya menggunakan kartu bergambar atau gambar-gambar yang menarik, tetapi  hasil pencapaian perkembangannya belum sesuai dengan hararapan. Dari observasi ditemukan beberapa fakta bahwa  sebagian besar Ananda kurang aktif dalam proses pembelajaran, tidak percaya diri karena minimnya ide untuk menggunakan kosa kata yang memadai dalam bercerita sehingga kesulitan untuk mengolah kata dan mengekspresikan  melakui bahasa tubuhnya termasuk secara lisan. Fakta ini terjadi karena pembelajaran yang selama ini dilakukan  kurang memberikan ruang kebebasan bagi anak untuk dapat mengeksplor  keterampilan berceritanya dan penggunaan media  masih kurang inovatif dan menarik sehingga peserta didik merasa bosan.

Berdasarkanfakta-fakta di atas, makapenulisperlumengimplementasikan Model pembelajaran kooperatif Examples Non Examples,Model pembelajaran inimemilikipotensilebihuntukmewujudkanharapan agar siswadapatberpikirlogisdansistematissejakdinimelaluipengamatanterhadapgambar-gambarsehingga tepatdigunakanuntukmendukungaktifitasmenceritakan gambar yang berorientasipadapolapembelajarankolaborasisebagaiperwujudandaricooperative learning sebagaisaranapendukungpembelajaran yang berpusatpadasiswadengan memberi kesempatanuntukmenentukanpilihan, mengemukakanpendapat, danaktifmelakukanaktifitasataumelakukanataumengalamisendirisedangkan guru bertindaksebagaifasilitator.

Model pembelajaran inipunsangatsesuaidenganprinsip-prisippembelajaran di TK utamanyauntukmewujudkanpembelajaran yang berpusatpadasiswa (student oriented), pembelajaran yang demokratiskarenametodeinimemberikankesempatankepadasiswauntukberinteraksisecara optimal baikdengan guru maupundenganteman, selainitu Model  pembelajarankooperatif Examples non Examplesmemberikankesempatananakuntukmerasakanpembelajaran yang penuhmaknadalamarti proses pembelajaran yang efektifdandapatmembawapengaruhperubahanterhadaptingkahlaku yang meliputiaspekafektif, psikomotorikdankognitif. Dengan memberikan kesempatan siswa untuk beraktifitas dan bersosialisai dengan lingkungannya, memberikan pengalaman, pengetahuan dan keterampilan dan dapat menumbuhkan  beberapa aspek yang positif lainnya seperti  kemandirian, sosial emosional maupun pengembangan karakter siswa seperti kerjasama, saling menghargai, berbagi dan rasa percaya diri.

Penerapan model pembelajarankooperatifExamples non Examplesturutmemberikanpengaruhpositifpadadiriseorangsiswamisalnyalebihdapatmemahamidanmenghargai  orang lain, mencapai hl tersebut  perlu dilatih dengan memahamibahwamerekamembutuhkanpendapat orang lain yang belumtentuterfikirkanolehdirinyasendiridanbahwahidupituharussalingmembantudanberbagi.

Meskipun  model pembelajaranKooperatif Examples non Examplesbiasadigunakan di kelastinggi, namun ternyata sangat efektifjugaditerapkan di Taman Kanak-Kanak denganmenenkankanaspekpsikoligisdantingkatperkembangannya seperti; kemampuanberbahasalisan, kemampuananalisisringan, dankemampuanberinteraksidengansiswalainnya.

Aspek-aspek yang diamati dan dinilai selama menceritakan gambar  menggunakan model pembelajaran Kooperatif Examples non Eksemplesyang diterapkan dalam penelitian ini meliputi penggunaan kosa kata, kelancaran, pelafalan, kesesuaian cerita dengan gambar, Keruntutan cerita,komunikasi non verbal dan penampilan dalam bercerita,selain itu respon siswa termasuk antusiasme siswa dalam mengikuti pelajaran, suasana kelas, ekspresi wajah siswa saat bercerita dan  motivasi belajar siswa juga diukur melalui  semangat siswa dalam mengikuti kegiatan, keaktifan dilihat dari partisipasi atau banyaknya siswa yang mampu dan mau memberikan pertanyaaan, jawaban atau pendapat saat kegiatan  berlangsung dan kerja sama dengan teman saat berdiskusi bersama kelompoknya.

Penelitian tindakan kelas ini  dilaksanakan selama 2 siklus. Padasiklus I langkah-langkahpembelajarannyameliputihal-halsebagaiberikut:  (1) melakukankegiatan yang membangkitkansemangatmisalnyabertepuk, menyanyidll,  (2) menyampaikantujuanpembelajaran, (3) menjelaskantentangtehnikpembelajaran model Coopertaif Examples non Examplesdan media yang digunakan,(4) member contohcarabercerita yang baikdenganmenggunakan media gambar yang ditampilkan di layar LCD, selanjutnya guru member kesempatankepadasiswauntukmengajukanpertanyaantentangcerita yang telahdisampaikan, (5) Siswamengamatigambar (berbeda dengan gambar yang dicontohkan)  yang ditampilkanmelaluilayar LCD, (6) Siswamembentukkelompok @ 4-6 anak, (7) Siswamengamatidanmenganalisagambar yang ditampilkan, (8)Siswamelakukandiskusikelompokberkaitandengangambar yang ditampilkan, (9) Siswamenceritakangambar yang telahdianalisadantelahdidiskusikandengankelompoknya, (10) Siswamenjawabpertanyaantentangcerita yang telahdisampaikan, (11) Siswamemberikantanggapanterhadappenampilankelompoklain, (12) Membuat kesimpulan dengan penguatan pada aspek penanaman karakter siswadanmelakukanrefleksitentangkegiatan yang telahdilakukan.

Sedangkanpadasiklus II kegiatandirancangberdasarkananalisis dan refleksi  pada siklus I, kegiatanpadasiklus II ini hampir sama dengan siklus I tetapi untuk untuk peningkatan kualitas kegiatan belajar mengajar perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut misalnya penataan ulang pembagiankelompok dan tempat duduksehinggapesertadidiknyaman untuk berinteraksi, perlunya tambahan waktu untuk berdiskusi, media gambar harus full colour, untuk menarik perhatian dan meningkatkan motivasi  perlu alat pendukung berupa pengeras suara dan panggung mini,memberikan apresiasi yang lebih dengan memberikan hadiah bagi Ananda yang berani tampil dan pelaksanaankesepakatanperaturandalamkegiatansehinggakelasmenjadikondusifdanmenyenangkan.

HasilPenelitianmenunjukkanbahwa proses pembelajaran menceritakan gambardiakhirsiklus II semakinbaik dan terjadipeningkatan yang signifikandariseluruhelemen yang diamati. Hasilinidipastikankarenasiswamempunyaimotivasibelajar yang tinggidenganpenggunaan media yang inovatif dan dipacuolehhadiahmenarikbagi yang mengikutikegiatandenganbaik, siswajugasudahmemahamibetultehnikpelaksanaanmetodesertatujuanpembelajaran yang hendakdicapaisehinggakelasmenjadikondusifdanmenyenangkan.siswaterlihataktifberdiskusidanmamputampildengansangatbaik.Proses pelaksananankegiatanpembelajaransiklus II pertemuan I mencapaimencapai82,32%, padapertemuan II mencapai 86,74%, danpadapertemuan III mencapai 87,55%.Kalaudibandingkandenganhasilsebelumnyaataupertemuan III siklus I padapertemuan I siklus II terjadipeningkatan  yang tinggiyaitusebesar 13,65%. SedangkanjikapertemuanIdibandingkandenganpertemuan  II padasiklus II initerjadipeningkatan 14,42%,dan darikepertemuan III ataudiakhirsiklus yang telahmencapai87,55% iniberartiterjadipeningkatan proses sebanyak 0,81 %.

Dengan demikian penelitian ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang biasanya diterapkan di tingkat pendidikan yang tinggi ternyata dapat diterapkankan juga di Taman Kanak-Kanak tetapi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan diperlukan kreatifitas dalam memodifikasi antara metode, kebutuhan dan karakteristik anak.

GrafikPeningkatan Proses Belajar

Sedangkan untuk hasilbelajar, penulis memusatkan pada aspek-aspek yang berhubungan dengan  penggunaan elemen berbicara yang meliputi kelancaran, lafal, isi, keruntutan, komunikasi non-verbal, penampilan dan kosa kata. Hasilanalisispadaaspek kelancaran mengalamipeningkatan yang ditandaidenganpenggunaanwaktu jeda untuk berpikir dengan menggunakan kata “emm”,“apa ya …?”, “terus …” sudah jarangdiucapkan oleh pesertadidik dalam bercerita dan setiap kata sudah disampaikan dengan pelafalan yang benar. Pada aspek isi cerita sebagian siswa sudah dapat bercerita sesuai dengan  gambar dan dapat mengungkapkannya dengan runtut. Sedangkan dalam komunikasi non-verbal, Ananda sudah mampu  bercerita sambil menggunakan gerakan-gerakan dan ekpresi wajah yang baik dan tepat,  Dan  pada aspek penampilan bercerita, Ananda telah mampu membuat teman-temannya tertarik dengan apa yang diceritakan dengan penggunaan kosa kata yang lebih kaya dan pemilihan kata yang baik.

Grafik KonversiHasil Belajar

Dengan demikian penelitian ini membuktikan bahwa pengimplementasian model pembelajaran kooperatif Examples Non Examples dalam kegiatan menceritakan gambar berdampak positif terhadap proses dan hasil pembelajaran, selain itu penggunaan media pembelajaran yang berbasis IT di Taman Kanak-Kanak sangat menunjang keberhasilan dan mutu pembelajaran.

 

 Oleh: Ana Maslicha, S.Pd

(Juara I Lomba Inovatif Pembelajaran Kota Malang Tahun 2012)

Read more

Pinboard Jenaka Dalam Permainan Matematika

 

PENGGUNAAN PINBOARD JENAKA DALAM PERMAINAN MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERHITUNG  SISWA

Usia dini merupakan usia yang efektif untuk mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki anak-anak.  Pada masa ini anak mulai sensitif untuk menerima berbagai upaya perkembangan seluruh potensinya, sehingga menjadi masa yang sangat penting dalam mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, bahasa,seni dan nilai-nilai moral, sosial emosional. Hurlock (1983) mengatakan bahwa lima tahun  pertama dalam kehidupan seorang anak merupakan peletak dasar bagi perkembangan selanjutnya. Peaget juga mengatakan bahwa untuk meningkatkan perkembangan mental anak ke tahap yang lebih tinggi dapat dilakukan dengan memperkaya pengalaman anak  terutama pengalaman konkrit, karena dasar-dasar perkembangan mental adalah melalui pengalaman-pengalaman aktif dengan menggunakan benda-benda di sekitarnya. Perkembangan anak yang sangat kompleks dan memiliki arti yang sangat penting tersebut tidak dapat dipandang secara sederhana, optimalisasi perkembangan anak  memerlukan pengkondisian yang kondusif.

Upaya untuk mencapai hasil optimal dalam lingkup pengembangan kognitif khususnya kemampuan berhitung telah dilakukan penulis dengan berbagai aktifitas yang mendukung misalnya melalui kegiatan penanaman  konsep berhitung dengan menggunakan  menggunakan benda-benda konkrit, tetapi belum  membuahkan hasil yang memuaskan. Dari observasi ditemukan beberapa fakta yaitu sebagian besar siswa kurang  konsentrasi dan  tidak fokus dalam  mengikuti pembelajaran, siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran,siswa kesulitan memahami konsep bilangan dankurang percaya diri dalam berhitung. Fakta ini  terjadi karena pembelajaran berhitung yang telah dilakukan penulis selama ini kurang bervariatif, media yang digunakan  kurang menarik sehingga peserta didik bosan dan tidak berminat.

Berdasarkan fakta-fakta di atas, maka penulis perlu menggunakan media Pinboard Jenaka dalam kegiatan berhitung.Pinboard Jenaka dirancang sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran di Taman Kanak-Kanak  melalui kegiatan belajar sambil bermain bermain seraya belajarsiswa akan memperoleh dan memproses informasi dan melatih melalui keterampilan yang ada. Dalam  permainan berhitungmenggunakan Pinbord Jenaka memberikan kesempatan siswa untuk  beraktifitas dan bersosialisai dengan lingkungannya, memberikan pengalaman, pengetahuan dan keterampilan dan dapat menumbuhkan  beberapa aspek yang positif seperti  kemandirian, berbahasa, kognitif, jasmani, sosial emosional maupun pengembangan karakter siswa seperti kerjasama, saling menghargai, berbagi dan rasa percaya diri.

Pinboard Jenakamerupakan mediayang menarik dan sesuai dengan karakteristik siswa Taman Kanak-Kanak serta memiliki potensi lebih untuk mewujudkan harapan agar siswa dapat berpikir logis dan sistematis sejak dini melalui pengamatan terhadap gambar-gambar atau angka-angka yang ada pada media. Pinboard Jenaka tepat digunakan untuk mendukung aktifitas berhitung yang berorientasi pada pola pembelajaran kolaborasi sebagai perwujudandari pembelejaran kooperatif. Pinnboard Jenaka dapat digunakan sebagai sarana pendukung pembelajaran yang berpusat pada siswakarena dalam kegiatan berhitung menggunakan media Pinboard Jenaka, siswa diberi kesempatan untuk menentukan pilihan, mengemukakan pendapat, dan aktif melakukan aktifitas atau melakukan atau mengalami sendiri sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator.

Beberapa aktifitas permainan berhitung yang dilaksanakan  secara berkelompok dengan memanfaatkan media Pinboard Jenakaantara lain bermain bilangan,melalui kegiatan ini diharapkan siswa mampu mengenal dan memahami konsep bilangan, transisi dan lambang bilangan sesuai dengan jumlah benda-benda, pengenalan bentuk lambang dan dapat mencocokkan sesuai dengan lambang bilangan, bermain klasifikasi melalui kegiatan ini diharapkan siswa dapat mengelompokkan atau memilih benda berdasarkan jenis, fungsi,warna dan bentuk dan dengan bermain statistika diharapkan siswa dapat memiliki kemampuan untuk memahami perbedaan-perbedaan dalam jumlah dan perbandingan dari hasil pengamatan terhadap suatu obyek.

Aspek-aspek yang diamati dan dinilai selama bermain berhitung menggunakan Pinboard Jenakadalam penelitian yang telah dilakukan meliputi aspek ketepatan dan kecepatan dalam berhitung dan melaksanakan intruksi guru, selain itu respon siswa termasuk antusiasme siswa dalam mengikuti pelajaran, suasana kelas, ekspresi wajah siswa saat pembelajaran, motivasi belajar siswa juga diukur melalui  semangat dsiswa dalam mengikuti kegiatan bermain, keaktifan dilihat dari partisipasi atau banyaknya siswa yang mampu dan mau memberikan masukan, koreksi atau pendapat saat permainan berlangsung dan kerja sama dengan teman saat bermain bersama kelompoknya.

Penelitian tindakan kelas dilaksanakan selama 2 siklus.Pada  siklus I langkah-langkah pembelajarannya meliputi hal-hal sebagai berikut, (1) melakukan kegiatan yang membangkitkan semangat misalnya bertepuk, menyanyi dll,  (2) menyampaikan tujuan pembelajaran, (3) menyampaikan materi dan tehnis pelaksanaan berhitung (bermain klasifikasi dan bermain bilangan ) menggunakan media Pinboard Jenaka, (4) membentuk kelompok di   area matematika (anggota memilih anggota kelompoknya sendiri, (5) melakukan  permaian berhitung menggunakan media Pinboard Jenaka, (6) melaksanakan evaluasi sebagai umpan balik hasil pembelajaran Sedangkan pada siklus II dirancang kegiatan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, kegiatan pada siklus II ini meliputi hal-hal sebagai berikut, (1) melakukan kegiatan yang membangkitkan semangat misalnya bertepuk, menyanyi dll,  (2) menyampaikan tujuan pembelajaran, (3)  menyampaikan materi dan tehnis pelaksanaan berhitung (bermain statitiska dan bermain bilangan ) menggunakan media Pinboard Jenaka, (4) membentuk kelompok di   area matematika (anggota kelompok ditentukan oleh guru), (5) melakukan  permainan berhitung menggunakan media Pinboard Jenaka, (6) melaksanakan evaluasi sebagai umpan balik hasil pembelajaran, (7) pemberian reward .

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran berhitung diakhir siklus 2 semakin berkualitas dan  dapat digambarkan sebagai berikut: (1) respon siswa terhadap pembelajaran sudah sangat baik, hak ini terlihat dari tepuk tangan tanda gembira saat guru menjelaskan kegiatan berhitung akan  menggnakan Pinboard Jenaka, (2) sebagian siswa  sangat senang dapat berganti kelompok meskipun anggota kelompoknya ditentukan oleh guru, (3) motivasi belajar peserta didik sangat besar dengan fenomena yang terjadi yaitu siswa berminat menggunkan media saat pembelajaran telah usai, (4) keaktifan meningkat hal ini terlihat dari setiap siswa  sangat berperan dalam proses pembelajaran mulai diskusi kelompok, memberi arahan kepada teman,  bahkan mengoreksi dan memberi bantuan teman yang belum bisa serta tidak ditemukannya lagi peserta didik yang keluar kelas dengan berbagai alasan, berkaitan dengan hal ini konsentrasi perserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran sangat baik karena sebagian besar peserta didik sangat aktif, (5) percaya diri sudah sangat baik hal terlihat dari sebagian peserta didik dapat melakssiswaan semua intruksi guru dengan tangkas dan tepat  dalam menyelesaikan lembar kegiatan siswa,  tidak lagi ditemukan peserta didik yangkebingungan  .

Grafik Perkembangan Proses Pembelajaran Berhitung Menggunakan Media Pinboard Jenaka

Sedangkan dari hasil evaluasi pembelajaran berhitung menggunakan media Pinboard Jenaka pada akhir siklus 2 menunjukkan peningkatan, aspek yang menjadi penilaianmeliputi aspek ketepatan dan kecepatan.

Grafik Perkembangan Penilaian Hasil Kemampuan Berhitung Menggunakan Media dalam Konversi

Dengan demikian penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media Pinboard Jenaka dalam kegiatan pembelajaran mempunyai dampak yang positif terhadap proses dan hasil pembelajaran khususnya dalam kemampuan berhitung.

Media Pinboard Jenaka

Oleh: Ana Maslicha, S.Pd

(Juara Harapan I Lomba Media Pembelajaran Kota Malang Tahun 2014)

Read more
CLOSE
CLOSE